Akhirnya ada juga anggota DPR yang bersuara bubarkan KPK. Namanya Ahmad Fauzi dari Partai Demokrat.
Responnya ternyata lumayan luar biasa, persis seperti pengalaman saya dalam menanggapi ganyang pornografinya Pak MenKomInfo Muh. Nuh.
Ketika saya menolak ganyang pornografi, temen-temen pada bilang saya ini pro pornografi, begitu juga dengan Ahmad Fauzi, ketika beliau bilang bubarkan KPK, beliau dituding pro korupsi.
Mana mungkin seh hare gene ada orang bengak-bengok jangan berantas korupsi ?
Itu orang-orang yang protes kayak ICW kok tel mi banget sih ?
Mbok tolong disimak baek-baek pernyataannya Ahmad Fauzi:
Dari sekian banyak dugaan kasus korupsi, berapa persen yang berhasil diusut KPK?
Sekarang ini, sudah ada gejala KPK menjadi super body.
Kembalikan fungsi pemberantasan korupsi pada Kejaksaan dan Kepolisian.
Mudah-mudahan Ahmad Fauzi sejalan dengan saya;
Membentuk lembaga baru dengan wewenang seperti polisi dan jaksa bukan soal sepele.
Sebagai warga RI, saya tidak ingin punya pemerintahan yang kebanyakan tangan mengobrak-abrik privacy individu/warga.
Kalau kita menganggap cara yang dipakai KPK efektif memberantas korupsi, kenapa tidak di adopsi saja cara itu di Kepolisian dan Kejaksaan?
Polisi/Jaksa kita sudah punya infrastruktur yag jauh lebih bagus dari apa yang dimiliki KPK sekarang.
Kalau orang-orang didalam nya masih nggak becus, ya jadikan KPK sebagai internal affair.
Sekarang ini sebagian kita memang masih tenang-tenang aja dengan KPK atau pasal-pasal anti pornografi, karena kita yakin tidak akan terlibat dengan masalah-masalah begituan, tapi kalau sudah terkena ekses yang kita tidak duga baru deh teriak, seperti yang dialami Ahmad Fauzi.
Filed under: Pemerintah | Tagged: dpr ri, icw, jaksa, korupsi, kpk, polisi
Yang tel mi tuh elo!
kalo gue tel mi, elu apaan?
dari awal saya juga kaget dengan tanduk-tindak-nya KPK…Mereka agak over ..Tapi, sebagian temen bilang: “Karena aksi kayak gt masih baru–seruduk dan tangkap tanpa pandang bulu–makanya bikin kebanyakan orang kaget!” saya hanya menyayangkan sikap KPK yang kelewatan ‘bagak’. Mereka kayak preman aja, seperti mengenyampingkan nilai rasa. Apa seperti itu ya pemberantasan korupsi? Selain itu, yg menimbulkan pertanyaan, kenapa ya pemerintah sekarang rajin bgt bikin komisi2an? Apa ga pemborosan tuh? Kejaksaan dan Polisi digaji juga, kok bikin KPK segala yang menurut informasi: ‘gajinya jauh lebih besar dari dua lembaga penyidik tersebut’…Pikirin lagi lah buat bubarkan KPK, kali aja pas buat dilikuidasi, hehehehe…
saya yakin di Bea Cukai Tanjung Priok, ada juga orang-orang yang nggak ikut (belum sempet) suap-suapan. orang-orang itu uda terkena eksesnya KPK. dompet, tas dan laci nya ikut digeledah, padahal disitu ada pil viagra, foto mesra koleksi pribadi atau mungkin foto wanita idaman lain… he..
Berita yang muncul dari peristiwa itu adalah keberhasilan KPK membongkar praktek suap, tapi berita kesewenangan pemerintah mengobrak-abrik privacy warga negara nya nggak muncul.
YG PENGTING HUKUM GANTUNG AJA TUH YG KORUPSI, BIKIN SUSAH RAKYAT!!! DUITNYA KASIH RAKYAT MISKIN
makanya jangan asal reformasi, ujung-ujungnya report sendiri, sayang kan …… kapan mau bangun Negeri yang agak tenang di hati yaaa
huehueue, ,…. ngarepin polisi ama kejaksaan nangani korupsi ? …
telmie lo .. kebanyakan makan duit korupsi
mau KPK kek Mau Kejaksaan Kek atau mo Polisi kek….bodo’ amat yg penting brantas korupsi…daripada cuma duduk, ngetik dan OMDO….
Partisipasi rakyat dalam pil-leg dan pil-pres pada dasarnya
adalah proses memberikan mandat kepada segelintir orang
untuk mengurusi ratusan juta orang.
Suka atau tidak, segelintir orang pilihan rakyat itulah yang
menuruti saran IMF melikwidasi belasan bank. Begitu juga
dengan pengucuran BLBI, pemberangusan koran, penghilangan
aktivis, pembantaian anggota dan simpatisan PKI, pencaplokan
TimTim, obral LNG Tangguh, penciptaan UU anti pornografi.
Kalau elo-elo belum ngerasain dampak dari tindakan pemerintah
di atas, sebaiknya mulai berandai-andai: apa jadinya kalo elo
jadi Munir, antek PKI, warga TimTim atau warga Bali.
Supaya tirani macam Suharto tidak terulang lagi, kita harus
pastikan bahwa yang namanya pemerintah itu wewenangnya harus
dibatasi. Jadi siapapun yang terpilih (mau malaikat atau
raja garong sekalipun) tidak bisa berbuat semena-mena karena
emang udah ada patok-patok batas nya.
Kenapa patok-patok itu penting banget buat kita?
Karena, lagi-lagi suka atau tidak, kita ini termasuk bangsa
yang nrimo-an.
Berapa tahun kita dijajah Belanda?
Tiga ratus lima puluh taun! Saya ulang 350 tahun!
Dari mulai elo lahir sampe elo mati, Belanda nya nggak minggat-
minggat, sampe anak lo mati Belanda juga masih ada, cucu lu mati
Belandanya juga masih ada. Dari segi jumlah, golongan elo jauh
lebih banyak dari Belanda.
Bukannya saya nggak menghormati para pahlawan, tapi lha ya
kok minggatnya Belanda itu pas banget sama datengnya Jepang.
Jadi Belanda itu sebenernya takut sama pendekar bambu runcing
apa sama samurai?
Mudik nya Jepang kok ya pas banget sama meletusnya bom atom
nun jauh disana.
Berapa tahun Suharto berkuasa? Tiga puluh dua tahun!
Kalo dollar nggak melonjak berlipat-lipat mungkin beliau
masih presiden sampai hembusan nafas terakhir.
Jadi mendingan kita nrimo aja bahwa kita ini bangsa yang
nrimo-an. Sejarah mencatat; perubahan nasib di negeri ini
lebih banyak ditentukan dari luar, bukan dari kita sendiri.
Apakah ada ciri lain dari bangsa yang nrimo-an?
Ada! Coba tanya tukang ojek, ibu rumah tangga dan mahasiswa
tentang presiden idaman.
Pasti jawabannya presiden yang berhati nurani, yang rela
mengorbankan kepentingan pribadi atau kelompoknya demi rakyat.
Busyet dah, kalo emang ada orang kayak gitu, mendingan
tunjuk dia jadi presiden seumur hidup, lalu bubarin
parlemen, buang UUD45 ke tong sampah.
Bangsa nrimo-an itu termasuk bangsa yang romantis karena
kebanyakan nonton sinetron, yang menganggap di dunia ini ada
pangeran berhati mulia seperti malaikat.
Jika SBY dan Antasari itu memang malaikat satrio piningit,
mengapa kita perlu waktu sekian lama menetapkan Aulia
Pohan sebagai tersangka?
Kalau SBY kemudian menggandeng Antasari sebagai cawapres,
apa kita yakin dia nggak akan menyadap teleponnya Megawati,
Prabowo, JK, Wiranto?
Untuk bangsa seperti ini, saran saya adalah:
jangan sekali-kali memberi wewenang berlebihan kepada mereka-
mereka yang akan mengurusi hajat hidup kita sendiri, apalagi
wewenang mengobrak-abrik privacy kita.
Dalam iklim demokrasi, pemerintah diciptakan oleh rakyat,
sama seperti Monalisa yang diciptakan oleh Leonardo da Vinci.
Yang membedakan keduanya adalah: Monalisa tidak bisa membunuh
Leonardo da Vinci, tapi pemerintah bisa membantai rakyat yang
menciptakannya.