habib rizieq, gus dur, ke laut aja luh sono

Siapapun yang terlibat dalam aksi kekerasan, tentu sadar akan risiko-risiko yang harus ditanggung sendiri. Mulai dari lecet-lecet, patah tulang, bocor kepala sampai nyawa melayang.

Jika kita terpaksa terlibat dalam kancah kekerasan, tentu kita punya alasan yang bagus untuk itu. Supaya mudah, variasi alasan-alasannya saya kelompokan menjadi dua saja:
1. membela diri kita sendiri atau keluarga.
2. membela negara atau kelompok.

Saya tidak akan membahas alasan yang nomor 1, karena dalam wilayah ini, keputusan untuk menempuh risiko cedera atau mati, sepenuhnya didasarkan pada alasan-alasan yang melekat pada diri kita sendiri. Mengambil risiko di wilayah ini adalah sesuatu yang alami, setiap makhluk pasti punya survival instinct.

Yang harus kita kupas adalah wilayah nomor 2. Mengapa begitu?
Karena disitu rawan brain-washing.

Tahun 2003, Amerika Serikat mulai melancarkan agresi militernya ke Irak. Keputusan perang itu dibuat setelah Bush mendapat kepastian dari laporan intelligence bahwa Saddam Husein memiliki senjata biologi.
Laporan itu pun sempat digunakan oleh Colin Powell dalam presentasinya di depan DK PBB menjelaskan mengapa AS harus melakukan pre-emptive strike ke Irak.

Ketika pasukan AS berpamitan dengan keluarganya, mereka sadar betul bahwa risiko dari sebuah perang adalah nyawa mereka sendiri.

Sebelum saya lanjutkan, mari kita renungkan kalimat dibawah ini:
Yang membedakan situasi yang dihadapi oleh pasukan AS dengan situasi pada alasan nomor 1 adalah; keputusan bertaruh nyawanya tidak ditentukan oleh sipemilik nyawa itu sendiri, tapi oleh Presiden AS.

Menurut kabar angin, sampai hari ini tentara AS yang gugur di Irak sudah lebih dari 4000.

Sebandingkah pengorbanan 4000 tentara AS dengan alasan yang di belanya?

Belakangan diketahui laporan rahasia tentang senjata biologis itu salah, bahkan wartawan CBS berhasil membongkar sumber informasinya (yang bernama samaran Curve Ball) tak lain hanya seorang mahasiswa kimia yang tidak berprestasi, suka mabuk serta memiliki catatan kriminal mencuri, dan faktanya pun sampai sekarang senjata biologis itu belum ditemukan.

Well saudara-saudara, 4000 orang Amerika mati hanya karena sebuah informasi yang tidak akurat. Beda nya gugur harum dengan mati konyol cuma sebatas akurasi intelligence.

Mudah-mudahan sekarang kita sudah bisa membedakan, mati karena alasan nomor 1 dan alasan nomor 2.

Tentu kita masih ingat, pengerahan pasukan RI dalam rangka operasi Seroja di Timor Timur tahun 1975. Saya yakin, seluruh pasukan yang berangkat menyongsong Fretilin tahu betul bahwa nyawa merekalah taruhannya.

Sekali lagi, yang membedakan situasi pasukan Seroja dengan situasi pada alasan nomor 1 adalah keputusan bertaruh nyawanya tidak ditentukan oleh sipemilik nyawa itu sendiri, tapi sekarang oleh presiden RI.

Operasi itu memang berhasil, tapi tidak sedikit pasukan kita yang gugur. Kalau di akumulasi, sejak 1975 sampai 1999 paling sedikit ada 2000 orang TNI/Polri gugur di Timor Timur.

Apakah pengorbanan itu sebanding dengan alasan yang dibela?

Ketika Suharto turun dan kita masih dilanda kegembiraan reformasi, Habibie, tahun 1999, menawarkan sikap cooperative kepada PBB dengan mengusulkan referendum alias jajak pendapat di Timor Timur. Saya yakin, pada saat itu, semua orang tahu bahwa hasil jajak pendapat pasti akan mengarah pada lepasnya TimTim dari RI. Itulah sebabnya mengapa Suharto selama hampir 24 tahun selalu bertahan menolak agenda PBB tentang TimTim, dan faktanya memang begitu, Timor Timur pun akhirnya lepas dari RI.

Bagaimanapun juga Suharto dan Habibie tetap manusia. Terlepas siapa yang salah; apakah itu Suharto atau Habibie, yang pasti pada tahun 1975 ketika operasi Seroja dimulai, TimTim bukan bagian dari kita, sekarang tahun 2008, TimTim juga bukan bagian dari kita. Sementara 2000 manusia Indonesia telah melakukan pengorbanan terbesar yang dapat dilakukan oleh manusia.
Saya tidak mengada-ada, pengorbanan paling besar yang dapat dilakukan oleh manusia adalah merelakan nyawanya sendiri, tidak ada yang lebih ultimate dari itu.

Berapa besarkah sumbangan TimTim pada kemakmuran RI selama 24 tahun menjadi salah satu propinsi RI?
Mungkin minus!
Betulkah tahun 70an Fretilin dapat mengganggu stabilitas regional?
Hanya rumput bergoyang yang tahu!

Point saya adalah, ketika kita harus terlibat dalam bentrokan fisik yang ber risiko fatal, ada baiknya kita bertanya pada diri kita sendiri sebandingkah risiko yang kita hadapi dengan alasan yang kita bela. Jika alasan itu untuk melindungi keluarga kita sendiri, berpikir satu kali rasanya sudah cukup, karena itu adalah survival instinct.

Tapi jika alasannya untuk sesuatu yang tidak melekat pada diri kita sendiri, mungkin 10 kali berpikir masih kurang.
Mengapa begitu?
Karena Habib Rizieq bisa salah.
Karena Gus Dur bisa salah.

Ketika beliau-beliau ber orasi : “jangan takut, rapatkan barisan, Allahu Akbar”, apakah mereka juga memikirkan anak, isteri dan orang tua kita jika terjadi sesuatu yang fatal pada diri kita?
Paling banter beliau-beliau itu cuma bezoek kita di rumah sakit, nengok kita di penjara atau ziarah ke kuburan kita.

Sekarang ini ada sejumlah anggota FPI jadi DPO nya polisi, apa yang dilakukan Habib Rizieq?
Dia suruh anak buahnya menutup gang yang menuju rumah nya.

Mungkin berpikir 20 kali juga masih kurang.
Mengapa begitu?
Karena masih banyak pilihan lain yang bisa kita ambil.
Pulanglah kerumah, temuilah orang-orang yang kita sayangi, bahagiakanlah mereka, berkaryalah dan pastikan masa depan mereka terjamin, bertegur-sapalah dengan tetangga kiri-kanan agar tercipta lingkungan yang mudah tolong-menolong.

Lalu bagaimana dengan Habib Rizieq dan Gus Dur?
Suruh mereka ke laut!

6 Responses

  1. habib rizieq lebih baik di hukum gantung aja tuh orang, lagak nya kaya oma irama, kalo liat cewe sexy haram tapi kalo jadi bini halal, engga usaha kaya orang arab, orang arab aja engga kaya lu.

  2. ya…..katanya jagoan tapi waktu digerebek polise panglima laskar jilat eh jihatnya kabur , waktu di tv bilang bertanggung jawab, giliran ada masalah anak buahnya aja yg ditangkap, jadi bego betul ya jadi anak buah nya. lebih baik kasih tau aja panglimanya biar dia betul2 tanggung jawab. kalo sekarang anak buahnya yg tanggung.

  3. biar bagaimana pun habib rizieq anak buah gua

  4. hey anonymous,kl km ga ngerti masalah ga uasah banyak comentar tolol.emangnya km udah tau seluk beluk fpi ampe berani ngomong gitu.kalo berani ngomong jgn disini buktiin di depan massa. kl ga punya nyali ga uasah banyak komentar’dasar kafir musyrik murtad’kelaut aja lu////.kl berani ayo ketemuan.

  5. FPI harus kita dukung,hanya fpi yg berani membela agma islam dan membela aqidah’sementara banyak kyai,ustadz,dan para muballigh,hanya sibuk ngurusin partai,caleg,ampe maujadi presiden.pokoknya AHMADIYAH HARUS DI BUBARKAN. hidup FPI,HABIB RIZIEQ its my hero.ALLAHU AKBAR.ALLAHU AKBAR.

  6. ANONYMOUS KM ORANG GILA YA,KL GA NGERTI ISLAM JGN KOMENTAR,KM BELAJAR DULU YG RAJIN SUPAYA BISA NGERTI.JGN2 ORANG TUA KM GA PERNAH NGAJARIN KM.KASIHAN KM.MENDING KM YG KE LAUT AJA YA……HA… HA….

Leave a Reply